Saturday, 19 October 2019


 بسم الله الرحمن الرحيم


Nuraeni

Ringkasan mata kuliah Islamic Worldview
Oleh Dr. Wido Supraha, M.Si

ADAB

Pengertian Adab

Menurut pengertian secara umum adab adalah kebiasaan baik. atau menerapkan ahlak yang mulia. Menurut Syed Naquib Al Attas, Adab adalah disiplin akal, jiwa dan jasad. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani dalam kitab Fath al-Bari, 10/400:

و الأدب استعمال ما قولا و فعلا و عبر بعضهم عنه بأنه الأخذ بمكارم الخلاق
“Dan adab adalah melakukan  apa-apa yang dipuji oleh manusia, baik perkataan maupun perbuatan. Didefinisikan juga oleh sebagian ulama bahwa adab adalah penerapan ahlak yang mulia”

Untuk membahas adab lebih lanjut, terlebih dahulu harus diketahui unsur-unsur yang terdapat pada jiwa manusia, yaitu:

1.      Akal.
Akal tugasnya adalah untuk berkerja dan dipekerjakan dengan cara berfikir dan menganalisa. Oleh karenanya sejak awal Islam datang, ayat pertama yang dirutunkan Allah SWT adalah perintah membaca. Dalam pengertian yang lebih luas adalah belajar dan mempelajari Al Qur’an dengan cara tadabbur dan tadzakkur. Oleh karenanya untuk mendapatkan akal yang sehat maka harus dipelihara dengan memberikan makanannya, yaitu ilmu. Dengan ilmu, akal akan mengenal Allah SWT. Dengan mengenal Allah SWTmaka, ia akan tunduk, patuh dan merendah kepada Allah SWT sebagai hamba. Olehnya Allah SWT memberikan penghargaan yang tinggi terhadap orang berilmu, sebagaimana SQ. Al Mujadilah:11

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

2.      Qalbu/ruh
Tugas qalbu adalah memahami dan menghayati apa yang diketahui oleh akal. Jika qalbu faham, maka jasad sebagai kendaraannya akan bergerak. Qalbu yang sehat adalah qalbu yang senantiasa dipelihara dengan memberikannya asupan makanannya yaitu dengan berdzikir kepada Allah SWT. Qalbu yang senantiasa berdzikir akan menjadi jernih dan tenang sehingga ia dapat menjadi acuan dalam setiap masalah.  Kejernihan dan ketenagan inilah yang memudahkan seseorang untuk memahami ilmu serta dapat mendorongnya untuk mendapatkan hikmah-hikmah besar terhadap ilmu-ilmu yang diketahuinya.

3.      Jasad
Makanan jasad adalah amal atau bergerak. Jasad adalah kendaraan bagi qalbu. Agar jasad selalu siap untuk beramal atau bergerak maka, amal butuh diberi bahan bakar berupa makanan 4 sehat 5 sempurna. Olehnya makanan itu bukan untuk jasad, melainkan untuk amal atau bergerak. Maka dapat dilihat orang yang banyak makan atau tidak makan, akan sulit untuk beramal atau bergerak. Islam yang bersifat wasathiyah mengajarkan manusia untuk seimbang antara makan banyak dan tidak makan. Sebagaimana firman Allah dalam Qs:7:31

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ
“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

Tentunya tidak sekedar makan, tetapi makanan yang baik lagi halal. Baik dari segi penyajiannya maupun cara mendapatkannya. Sebab makanan yang baik lagi halal akan menghasilkan jiwa yang baik (khair) yang akan melakukan amal-amal yang baik pula. Disinilah fungsinya akal untuk berfikir memahamkan qalbu yang menggerakkan jasad untuk beramal.

Jika terpenuhi semua kebutuhan akal, qalbu dan jasad maka akan terwujud akal yang cerdas yang melahirkan qalbu yang bersih dan jasad yang sehat. Inilah yang dimaksud keseimbangan (tawazun), yang dihasilkan oleh keadilan akal. Hal ini berawal dari kedisplinan yang melahirkan amal-amal yang adil dan seimbang berdasarkan ridha Allah SWT. Yaitu melihat segala sesuatu masalah yang sesuai dengan porsinya.

Konsep Adab

Berdasarkan firman Allah SWT. Dalam QS:66:6

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Menurut Ali bin Abi Thalib RA. Ayat ini bermakna bahwa kepala keluarga; dalam hal ini suami, bapak, kakek dan istri/ibu harus menanamkan adab dan ilmu. Hal ini mengisyaratkan bahwa beliau telah mengetahui sejak awal bahwa proses mendapatkan ilmu adalah didahului dengan pendidikan adab. Oleh karenannya institusi-institusi pendidikan bertugas melahirkan manusia terbaik yang beradab.

Target teringgi dari pendidikan adalah membangun jiwa-jiwa yang membangun agama. Olehnya beberapa ulama menggunakan kata pendidikan dengan banyak redaksi, diantaranya adalah:

-      - Ta’lim. bermakna pengajaran yang bersifat penyampaian pengetahuan dan keterampilan. Pelakunya   disebut Mu’allim atau Mu’allimah
-        - Tadris. Bermakna melakukan transfer pengetahuan. Pelakunya disebut Mudarris atau Mudarrisah.
-     - Tarbiyah. Bermakna mengantarkan seseorang pada tumbuh kembangnya. Pelakunya Murabbi atau   Murabbiyah
-       -  Tadrib. Bermakna pelatihan-pelatihan fisik. Pelakunya Mudarrib atau Mudarribah.

Akan tetapi menurut Syed Naquib Al Attas bahwa, kata Ta’dib telah mewakili semua redaksi di atas dengan tujuan yang lebih substantif. Pelakunya ta'dib disebut Mu’addib dan Mu’addibah.

            Ajaran agama Islam bersifat alamiyah, dimana setiap orang akan mudah menerima hal-hal yang baik, baik bentuk perkataan yang baik ataupun perbuatan yang baik. oleh karenanya kebaikan Islam pasti dipuji dan diterima oleh setiap orang tanpa menyebutkan sumbernya sekalipun. Hal ini seiring dengan metode berda’wah yaitu, menyampaikan da’wah sesuai bahasa setempat agar mempermudah penyampaian da’wah dan amal. Sebab tanda kesempurnaan iman adalah beramal. Beramal bukan sekedar rutinitas harian walau rutinitas itupun sangat berguna karena merupakan syariat Islam dan tonggak untuk hal-hal yang lebih besar. Tetapi selain rutinitas ada hal yang lebih berharga dan bergairah yang meminta pengorbanan air mata, darah bahkan nyawa. Sebagaiman firman Allah Qs. Al Anfal:34

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَجِيبُواْ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيكُمۡۖ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu”.


            Amalan rutinitas dan amal yang lebih berharga dan bergairah adalah signal dari perintah Allah SWT. Untuk melakukan semua perintah Allah SWT secara menyeluruh, sebagaimana tafsir Imam Ibnu Katsir tentang Qs:2:208 bahwa perintah melaksanakan ajaran agama Islam secara keseluruhan adalah sekuat tenaga, seluruh kemampuan hinggapun harus menyerahkan nyawa. Oleh karenanya penegakkan syariah Islam secara menyuluruh adalah menegakkan cabang-cabang iman. Dimana cabang tertinggi adalah menegakkan kalimat لا إله إلا الله, dan cabang yang paling rendah adalah membuang duri di jalan. olehnya iman yang terendah saja membutuhkan energi apatah lagi iman yang tertinggi, tentu lebih banyak energi yang dibutuhkan, hinggapun nyawa yang diminta.

            Iman adalah amal, sebab targetnya adalah beramal. Tetapi sebelum beramal haruslah mengilmui amalan tersebut. Sebab ilmu adalah pemimpin amal. Ilmu juga menjadi syarat diterimanya amal dan sebagai pendorong untuk melakukan amal. Syarat agar ilmu dapat mendorong amal adalah mempelajari adab. Kurang lebih urutannya adalah sebagai berikut:



1. Iman sebelum Adab
2. Adab sebelum Ilmu

3. Ilmu sebelum Amal






                                 



Seseoang yang mempelajari adab, pastilah beriman kepada Allah SWT. Dan orang yang beriman pada Allah SWT secara otomatis mengimani kalam Allah yaitu Al Qur’an. Al Qur’an adalah hidangan adab, sebagaimana Rasulullah صل الله عليه وسلم menjadi sosok berahlak seperti Al Qur’an.
 
            Para ulama dan orang-orang soleh terlebih dahulu mempelajari adab. Mereka rela mendapatkan sedikit ilmu untuk mendahulukan mempelajari adab. Tetapi justru dengan mempelajari adab, mereka menjadi faham banyak ilmu. Inilah yang disebut keberkahan. Mereka bahkan mengaplikasikan adab dalam bentuk yang paling kecil. seperti menyesuaikan pakaian mereka, yang mana pakaian untuk ke majlis ilmu, ke masjid untuk shalat ataukah ke pasar dan lain-lain. Sebagaimana perkataan Ibnul Mubarak dalam Adabul ‘Âlim wal Muta’alliim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari,

نحن إلى قليل من الأدب أحوج منا إلا كثير من العلم
“kami lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak”.

Kesalahan yang banyak dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang adalah mengejar ilmu tanpa mengindahkan adab. Hanya sekedar membutuhkan gelar. Olehnya ketika telah berada di lapangan atau tengah mengajarkan ilmunya, hanya sebatas bekerja untuk mendapatkan upah. Hanya sekedar menggugurkan kewajiban dan tidak memperdulikan selainnya. setiap pengajar harus memperhatikan adabnya terlebih dahulu, sebab setiap orang terkadang menjadi murid dan sekaligus adalah seorang guru atau pengajar.

            Dalam kita At Tibyân fi Hamalat Al Qur’an karya Imam Nawawi diterangkan adab-adab guru dan murid, sebagai berikut:

1.      Adab seorang guru atau pendidik kepada muridnya:
o   Dalam mengajar harus ikhlas hanya mengharapkan keridhaan Allah l.
o   Tidak boleh mengharapkan lebih banyak materi dari orang-orang yang diajarkan ilmu.
o   Tidak memaksakan orang lain untuk mengikuti majelisnya.
o   Hendaknya bersifat zuhud terhadap dunia dan mengambil seperlunya.
o   Bersikap lemah lembut. 
o   Memberikan nasehat. Sebab agama adalah nasehat.
o   Tidak menyombongkan diri.
o   Membantu dalam hal-hal yang kecil serta mengajarkan ilmu secara bertahap.
o   Mementingkan pengajaran diatas kepentingan dirinya yang bersifat duniawi.
o   Menunjukkan kegembiraan dan muka berseri-seri dalam mengajar
o   Tidak boleh menolak mengajarkan ilmu disebabkan niat muridnya berbeda dengannya.
o Harus fokus dalam mengajar. Di zaman sekarang, tidak layak seorang pengajar memberikan pelajaran kepada muridnya sambil bermain hand phone dan lain-lain.
o   Tidak merendahkan ilmu.
  
2.      Adab seorang murid terhadap gurunya:
o  Belajar terhadap guru yang menonjol keagamaannya, nyata pengetahuannya dan terkenal kebersihan diri dan sifatnya.
o     Memuliakan guru untuk mendapatkan manfaat ilmu.
o   Mendoakan, sebagaimana ulama-ulama mutaqaddim mendoakan guru-guru mereka dengan doa : “Ya Allah, tutupilah keburukan guruku dariku dan jangan hilangkan keberkatan ilmunya dariku”.
o   Tidak berbicara dengan orang di sampingnya ketika guru sedang mengajar
o  Ketika masuk ruang majelis guru, seharusnya seorang murid  meminta izin terlebih dahulu dan memberi salam.
o   Tidak boleh melewati bahu orang lain kecuali telah diizinkan oleh gurunya.
o   Menunjukkan adab yang baik terhadap guru dan teman-taman sesama majelis.
o Berbaik sangka terhadap guru dengan ketegasan dan keburukan ahlaknya, serta meminta maaf terhadap guru sekalipun merasa tidak bersalah.
o   Tekun dalam menuntut ilmu.
o   Tidak iri terhadap keutamaan kawan dan tidak membanggakan diri.

Adapun cara menanamkan adab pada anak didik adalah:
o   Menjadi contoh tauladan terlebih dahulu.
o   System ketauladanan jama’i. Bahwa semua pengajar dan orang-orang dewasa yang ada disekelilingnya  bertanggung jawab untuk menanamkan adab sesuai level masing-masing.
o   Penerapan adab harus sinkron antara sekolah dan rumah, serta lingkungan sekitar rumah.


و الله أعلم بالصواب

No comments:

Post a Comment