Saturday, 19 October 2019


 بسم الله الرحمن الرحيم


Nuraeni

Ringkasan mata kuliah Islamic Worldview
Oleh Dr. Wido Supraha, M.Si

ADAB

Pengertian Adab

Menurut pengertian secara umum adab adalah kebiasaan baik. atau menerapkan ahlak yang mulia. Menurut Syed Naquib Al Attas, Adab adalah disiplin akal, jiwa dan jasad. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani dalam kitab Fath al-Bari, 10/400:

و الأدب استعمال ما قولا و فعلا و عبر بعضهم عنه بأنه الأخذ بمكارم الخلاق
“Dan adab adalah melakukan  apa-apa yang dipuji oleh manusia, baik perkataan maupun perbuatan. Didefinisikan juga oleh sebagian ulama bahwa adab adalah penerapan ahlak yang mulia”

Untuk membahas adab lebih lanjut, terlebih dahulu harus diketahui unsur-unsur yang terdapat pada jiwa manusia, yaitu:

1.      Akal.
Akal tugasnya adalah untuk berkerja dan dipekerjakan dengan cara berfikir dan menganalisa. Oleh karenanya sejak awal Islam datang, ayat pertama yang dirutunkan Allah SWT adalah perintah membaca. Dalam pengertian yang lebih luas adalah belajar dan mempelajari Al Qur’an dengan cara tadabbur dan tadzakkur. Oleh karenanya untuk mendapatkan akal yang sehat maka harus dipelihara dengan memberikan makanannya, yaitu ilmu. Dengan ilmu, akal akan mengenal Allah SWT. Dengan mengenal Allah SWTmaka, ia akan tunduk, patuh dan merendah kepada Allah SWT sebagai hamba. Olehnya Allah SWT memberikan penghargaan yang tinggi terhadap orang berilmu, sebagaimana SQ. Al Mujadilah:11

يَرۡفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.

2.      Qalbu/ruh
Tugas qalbu adalah memahami dan menghayati apa yang diketahui oleh akal. Jika qalbu faham, maka jasad sebagai kendaraannya akan bergerak. Qalbu yang sehat adalah qalbu yang senantiasa dipelihara dengan memberikannya asupan makanannya yaitu dengan berdzikir kepada Allah SWT. Qalbu yang senantiasa berdzikir akan menjadi jernih dan tenang sehingga ia dapat menjadi acuan dalam setiap masalah.  Kejernihan dan ketenagan inilah yang memudahkan seseorang untuk memahami ilmu serta dapat mendorongnya untuk mendapatkan hikmah-hikmah besar terhadap ilmu-ilmu yang diketahuinya.

3.      Jasad
Makanan jasad adalah amal atau bergerak. Jasad adalah kendaraan bagi qalbu. Agar jasad selalu siap untuk beramal atau bergerak maka, amal butuh diberi bahan bakar berupa makanan 4 sehat 5 sempurna. Olehnya makanan itu bukan untuk jasad, melainkan untuk amal atau bergerak. Maka dapat dilihat orang yang banyak makan atau tidak makan, akan sulit untuk beramal atau bergerak. Islam yang bersifat wasathiyah mengajarkan manusia untuk seimbang antara makan banyak dan tidak makan. Sebagaimana firman Allah dalam Qs:7:31

وَكُلُواْ وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ
“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.

Tentunya tidak sekedar makan, tetapi makanan yang baik lagi halal. Baik dari segi penyajiannya maupun cara mendapatkannya. Sebab makanan yang baik lagi halal akan menghasilkan jiwa yang baik (khair) yang akan melakukan amal-amal yang baik pula. Disinilah fungsinya akal untuk berfikir memahamkan qalbu yang menggerakkan jasad untuk beramal.

Jika terpenuhi semua kebutuhan akal, qalbu dan jasad maka akan terwujud akal yang cerdas yang melahirkan qalbu yang bersih dan jasad yang sehat. Inilah yang dimaksud keseimbangan (tawazun), yang dihasilkan oleh keadilan akal. Hal ini berawal dari kedisplinan yang melahirkan amal-amal yang adil dan seimbang berdasarkan ridha Allah SWT. Yaitu melihat segala sesuatu masalah yang sesuai dengan porsinya.

Konsep Adab

Berdasarkan firman Allah SWT. Dalam QS:66:6

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”.

Menurut Ali bin Abi Thalib RA. Ayat ini bermakna bahwa kepala keluarga; dalam hal ini suami, bapak, kakek dan istri/ibu harus menanamkan adab dan ilmu. Hal ini mengisyaratkan bahwa beliau telah mengetahui sejak awal bahwa proses mendapatkan ilmu adalah didahului dengan pendidikan adab. Oleh karenannya institusi-institusi pendidikan bertugas melahirkan manusia terbaik yang beradab.

Target teringgi dari pendidikan adalah membangun jiwa-jiwa yang membangun agama. Olehnya beberapa ulama menggunakan kata pendidikan dengan banyak redaksi, diantaranya adalah:

-      - Ta’lim. bermakna pengajaran yang bersifat penyampaian pengetahuan dan keterampilan. Pelakunya   disebut Mu’allim atau Mu’allimah
-        - Tadris. Bermakna melakukan transfer pengetahuan. Pelakunya disebut Mudarris atau Mudarrisah.
-     - Tarbiyah. Bermakna mengantarkan seseorang pada tumbuh kembangnya. Pelakunya Murabbi atau   Murabbiyah
-       -  Tadrib. Bermakna pelatihan-pelatihan fisik. Pelakunya Mudarrib atau Mudarribah.

Akan tetapi menurut Syed Naquib Al Attas bahwa, kata Ta’dib telah mewakili semua redaksi di atas dengan tujuan yang lebih substantif. Pelakunya ta'dib disebut Mu’addib dan Mu’addibah.

            Ajaran agama Islam bersifat alamiyah, dimana setiap orang akan mudah menerima hal-hal yang baik, baik bentuk perkataan yang baik ataupun perbuatan yang baik. oleh karenanya kebaikan Islam pasti dipuji dan diterima oleh setiap orang tanpa menyebutkan sumbernya sekalipun. Hal ini seiring dengan metode berda’wah yaitu, menyampaikan da’wah sesuai bahasa setempat agar mempermudah penyampaian da’wah dan amal. Sebab tanda kesempurnaan iman adalah beramal. Beramal bukan sekedar rutinitas harian walau rutinitas itupun sangat berguna karena merupakan syariat Islam dan tonggak untuk hal-hal yang lebih besar. Tetapi selain rutinitas ada hal yang lebih berharga dan bergairah yang meminta pengorbanan air mata, darah bahkan nyawa. Sebagaiman firman Allah Qs. Al Anfal:34

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَجِيبُواْ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيكُمۡۖ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu”.


            Amalan rutinitas dan amal yang lebih berharga dan bergairah adalah signal dari perintah Allah SWT. Untuk melakukan semua perintah Allah SWT secara menyeluruh, sebagaimana tafsir Imam Ibnu Katsir tentang Qs:2:208 bahwa perintah melaksanakan ajaran agama Islam secara keseluruhan adalah sekuat tenaga, seluruh kemampuan hinggapun harus menyerahkan nyawa. Oleh karenanya penegakkan syariah Islam secara menyuluruh adalah menegakkan cabang-cabang iman. Dimana cabang tertinggi adalah menegakkan kalimat لا إله إلا الله, dan cabang yang paling rendah adalah membuang duri di jalan. olehnya iman yang terendah saja membutuhkan energi apatah lagi iman yang tertinggi, tentu lebih banyak energi yang dibutuhkan, hinggapun nyawa yang diminta.

            Iman adalah amal, sebab targetnya adalah beramal. Tetapi sebelum beramal haruslah mengilmui amalan tersebut. Sebab ilmu adalah pemimpin amal. Ilmu juga menjadi syarat diterimanya amal dan sebagai pendorong untuk melakukan amal. Syarat agar ilmu dapat mendorong amal adalah mempelajari adab. Kurang lebih urutannya adalah sebagai berikut:



1. Iman sebelum Adab
2. Adab sebelum Ilmu

3. Ilmu sebelum Amal






                                 



Seseoang yang mempelajari adab, pastilah beriman kepada Allah SWT. Dan orang yang beriman pada Allah SWT secara otomatis mengimani kalam Allah yaitu Al Qur’an. Al Qur’an adalah hidangan adab, sebagaimana Rasulullah صل الله عليه وسلم menjadi sosok berahlak seperti Al Qur’an.
 
            Para ulama dan orang-orang soleh terlebih dahulu mempelajari adab. Mereka rela mendapatkan sedikit ilmu untuk mendahulukan mempelajari adab. Tetapi justru dengan mempelajari adab, mereka menjadi faham banyak ilmu. Inilah yang disebut keberkahan. Mereka bahkan mengaplikasikan adab dalam bentuk yang paling kecil. seperti menyesuaikan pakaian mereka, yang mana pakaian untuk ke majlis ilmu, ke masjid untuk shalat ataukah ke pasar dan lain-lain. Sebagaimana perkataan Ibnul Mubarak dalam Adabul ‘Âlim wal Muta’alliim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari,

نحن إلى قليل من الأدب أحوج منا إلا كثير من العلم
“kami lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak”.

Kesalahan yang banyak dilakukan oleh orang-orang zaman sekarang adalah mengejar ilmu tanpa mengindahkan adab. Hanya sekedar membutuhkan gelar. Olehnya ketika telah berada di lapangan atau tengah mengajarkan ilmunya, hanya sebatas bekerja untuk mendapatkan upah. Hanya sekedar menggugurkan kewajiban dan tidak memperdulikan selainnya. setiap pengajar harus memperhatikan adabnya terlebih dahulu, sebab setiap orang terkadang menjadi murid dan sekaligus adalah seorang guru atau pengajar.

            Dalam kita At Tibyân fi Hamalat Al Qur’an karya Imam Nawawi diterangkan adab-adab guru dan murid, sebagai berikut:

1.      Adab seorang guru atau pendidik kepada muridnya:
o   Dalam mengajar harus ikhlas hanya mengharapkan keridhaan Allah l.
o   Tidak boleh mengharapkan lebih banyak materi dari orang-orang yang diajarkan ilmu.
o   Tidak memaksakan orang lain untuk mengikuti majelisnya.
o   Hendaknya bersifat zuhud terhadap dunia dan mengambil seperlunya.
o   Bersikap lemah lembut. 
o   Memberikan nasehat. Sebab agama adalah nasehat.
o   Tidak menyombongkan diri.
o   Membantu dalam hal-hal yang kecil serta mengajarkan ilmu secara bertahap.
o   Mementingkan pengajaran diatas kepentingan dirinya yang bersifat duniawi.
o   Menunjukkan kegembiraan dan muka berseri-seri dalam mengajar
o   Tidak boleh menolak mengajarkan ilmu disebabkan niat muridnya berbeda dengannya.
o Harus fokus dalam mengajar. Di zaman sekarang, tidak layak seorang pengajar memberikan pelajaran kepada muridnya sambil bermain hand phone dan lain-lain.
o   Tidak merendahkan ilmu.
  
2.      Adab seorang murid terhadap gurunya:
o  Belajar terhadap guru yang menonjol keagamaannya, nyata pengetahuannya dan terkenal kebersihan diri dan sifatnya.
o     Memuliakan guru untuk mendapatkan manfaat ilmu.
o   Mendoakan, sebagaimana ulama-ulama mutaqaddim mendoakan guru-guru mereka dengan doa : “Ya Allah, tutupilah keburukan guruku dariku dan jangan hilangkan keberkatan ilmunya dariku”.
o   Tidak berbicara dengan orang di sampingnya ketika guru sedang mengajar
o  Ketika masuk ruang majelis guru, seharusnya seorang murid  meminta izin terlebih dahulu dan memberi salam.
o   Tidak boleh melewati bahu orang lain kecuali telah diizinkan oleh gurunya.
o   Menunjukkan adab yang baik terhadap guru dan teman-taman sesama majelis.
o Berbaik sangka terhadap guru dengan ketegasan dan keburukan ahlaknya, serta meminta maaf terhadap guru sekalipun merasa tidak bersalah.
o   Tekun dalam menuntut ilmu.
o   Tidak iri terhadap keutamaan kawan dan tidak membanggakan diri.

Adapun cara menanamkan adab pada anak didik adalah:
o   Menjadi contoh tauladan terlebih dahulu.
o   System ketauladanan jama’i. Bahwa semua pengajar dan orang-orang dewasa yang ada disekelilingnya  bertanggung jawab untuk menanamkan adab sesuai level masing-masing.
o   Penerapan adab harus sinkron antara sekolah dan rumah, serta lingkungan sekitar rumah.


و الله أعلم بالصواب

Saturday, 12 October 2019


بسم الله الرحمن الرحيم
Nuraeni

Ringkasan mata kuliah Islamic Worldview
Oleh Dr. Wido Supraha, M.Si

Islamic Worldview artinya Pandangan dunia berdasarkan nilai-nilai Islam.  Abad pertengahan, oleh para ahli disebut The Dark Ages yang berarti masa kegelapan. Dimana sebelumnya pada masa kejayaan kekaisaran Romawi, mereka menguasai produk-produk sains dan tekhnologi. Dimasa kegelapan ini gereja mendominasi seluruh segi kehidupan masyarakat,  sampai pada produk-produk sains. Bahkan tokoh ilmuan sekelas Copernicus Galileo, oleh pihak geraja diperintahkan untuk bertaubat disebabkan teorinya tentang bumi mengitari matahari. Juga dominasi geraja yang sangat merendahkan wanita. Wanita dianggap sebagai produk gagal, bahkan dianggap  sebagai nenek sihir. Dominasi gereja yang terlalu kuat dan dianggap menghambat kemajuan tersebut mengakibatkan banyak masyarakat yang ingin melepaskan diri dari kekangan gereja. Hal ini dikenal dengan istilah Neutral. Yang di dalam bahasa Indonesia diartikan dengan BEBAS. Yaitu bebas dari hegemoni gereja Katolik Roma.

Pada masa inilah Agama Islam hadir untuk memberikan solusi. Dimana di dalam Islam tidak dikenal adanya kata Netral atau Bebas dalam perkara apapun. Dalam syariat Islam, penganutnya diminta untuk menetapkan pilihan dan memahami konsukuensi dari hasil pilihannya tersebut.  Metodologi untuk memilih dalam konteks Islam, sebaiknya sama. Jika metodologi berbeda, maka produk pun berbeda. Adapun orang di luar Islam yang netral, mereka menjadi atheis. Mereka membebaskan diri dari kitab suci agama apapun. Oleh karenanya mereka harus membuat teori-teori dan pandangan-pandangan kehidupan yang baru. Inilah yang disebut worldview, yaitu pandangan-pandangan baru yang tidak ada sama sekali unsur-unsur agama manapun. Maka pandangan-pandangan inilah yang di Islamisasi, yang oleh beberapa ulama yang mengistilahkannya dengan “Islami Nazariat” yaitu Abu Al A’la Al Maududi. Atau oleh Sayyid Kuthb yang mengistilahkan dengan “Tasawwur al-Islamy” dan Syed Naquib Al Attas menyebutnya “Ru’yat al-Islam lil Wujud”

Islamisasi adalah kemampuan mengidentifikasi kebenaran atas suatu hal, dan mengembangkan kebenaran tersebut. Panduan Islam dalam mengindentifikasi kebenaran adalah Al Qur’an dan Al Hadis. Oleh karenanya ayat al Qur’an yang turun
pertama kali adalah perintah untuk membaca.
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (Qs. Al Alaq:1).

Membaca dalam hal ini adalah seluruh ayat-ayat kauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Adakah pertentangan diantara keduanya? Oleh karenanya mau tidak mau seorang yang mengaku beragama Islam dan ingin mempelajari Islam harus bersedia untuk berfikir mendalam. Karena tanpanya, seseorang akan mudah menjadi taqlid buta pada hal-hal baru yang ditemui dalam kehidupannya. Dorongan untuk berfikir dalam Al Qur’an berbentuk kata-kata akal yang berulang 86 kali dan semua dalam bentuk kata kerja (fi’il). Kemampuan akal untuk berfikir sangat penting. Sebab dengan berfikir seseorang akan mengetahui banyak hal, yang dengannya ilmupun bertambah. Sehingga peradaban Islam tetap terjaga.

            Pandangan hidup Islam bersumber dari Al Qur’an. oleh karenanya Al Qur’an harus difahami melalui metode tadabbur (ayat-ayat Al Qur’an) dan tadzakkur (selain ayat-ayat yang tertulis di alam semesta) . Hal ini tercantum dalam Qs.38:29

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٩
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”.

Wajib hukumnya mentadabburi dan mentadzakkuri seluruh ayat-ayat Al Qur’an yang berjumlah 6.666 ayat atau 6.236 ayat (jumlah menurut Imam Ibnu Katsir). 77.439 kata, serta 340.740 huruf. Oleh karenanya setiap huruf yang menyusun kata terdapat 10 kebaikan. Sebagaimana sabda Rasulullah صل الله عليه وسلم :
من قرأ حرفا من كتاب الله فله به  سنة و الحسنة بعشر أمثالها, لا أقول "ال" حرف ولكن ألف حرف ولا وميم حرف (رواه الترميذي)
“Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah SWT (Al Qur’an), maka ia akan memperoleh pahala satu amal kebajikan. Dan pahala satu amal kebajikan dilipatkan 10x. Saya tidak mengatakan bahwa ‘Alif lam – mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. At Tirmidzi). 

Hadits ini mengisyaratkan bahwa hal-hal yang besar, berawal dari hal-hal yang kecil. Oleh karenanya jangan pernah meremehkan hal-hal kecil

            Perkataan Imam Al Jaz’iri; “Jangan tinggi-tinggi engkau bicara ingin menegakkan peradaban, sebelum engkau terbiasa menegakkan setiap huruf dalam Al Qur’an”. Hal ini senada dengan nasihat Luqman terhadap anaknya yang tertulis abadi dalam Qs. Luqman: 16;
يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ
“(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” Dari ayat al Qur’an, hadits Rasulullah dan perkataan Imam Jazari, semua mengisyaratkan bahwa hal-hal besar berawal dari hal-hal yang kecil. Dan semua perbuatan besar dan kecil akan dibalas dengan pahala dan juga siksa. Hal ini juga mengisyaratkan adanya proses. Proses yang runut, sistematis dan bertahap serta terus-menerus akan membentuk kedisiplinan. Kedisiplinan dalam berfikir akan membentuk adab dan akhlak yang menuntun seseorang untuk mengetahui dan membahami ilmu.

            Ajaran Islam yang tertuang dalam Al Qur’an, diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasululullah lewat Malaikat Jibril, melalui proses yang panjang, yaitu sekitar 23 tahun. Pada saat itu Rasulullah telah genap berusia 40 tahun. Dimana di usia 40, seseorang berada pada usia yang matang, serta telah melewati berbagai hal dan mengetahui nikmat yang telah Allah anugerahkan padanya. Olehnya seseorang yang telah mencapai umur 40 tahun membaca doa seperti yang terdapat dalam Qs.Al Ahqaf:15
قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٥

"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

            Di usia 40 tahun Allah SWT meneguhkan Rasulullah untuk mengemban dakwah Islam. Adapun fase tersebut terbagi dalam 3 bagian, yaitu;

- 13 tahun fase Makkah. ayat-ayat Al Qur’an yang turun pada fase ini bercirikan surah yang pendek-pendek, yang berisikan penanaman aqidah yang bermakna mengikatkan diri hanya kepada Allah SWT, penanaman tauhid yang bermakna meng-Esa-kan Allah SWT serta penanaman keimanan yang bermakna percaya hanya kepada Allah SWT. Semua bertujuan agar manusia mengetahui penciptanya dan tujuan penciptaannya. Agar manusia bertauhid  kepada Allah SWT secara kokoh, yang akan melahirkan iman yang juga kokoh. Iman yang kokoh akan melahirkan: keberanian, motifasi, ketenangan dalam keletihan berjuang, berusaha dan beramal.   
- 10 tahun fase Madinah. Ayat-ayat Al Qur’an yang turun pada fase ini bercirikan surah dengan ayat-ayat yang panjang, yang berisi penetapan syariat, baik ibadah, muammalah dan perintah untuk berjihad/perang.

Proses belajar Islam adalah proses belajar untuk mempersiapkan turbulensi. Artinya bahwa kehidupan yang Allah SWT karuniakan kepada manusia punya batas. Dimana batas umur manusia hanya berkisar 60 an tahun. 20 tahun awal kehidupannya adalah proses untuk menuntut ilmu. Diusia 40 tahun adalah proses mengamalkan ilmu dan tetap masih menunut ilmu. Diusia 60 tahun adalah proses mengamalkan ilmu sambil masih tetap terus menutut ilmu. Proses ini disebut Tafaqquh, yang membawa seseorang pada kejahilan (kebodohan) kepada ‘alim dan fahim, serta faqih إن شا الله.

و الله أعتم بالصواب