Nuraeni
Ringkasan mata kuliah Islamic Worldview
Oleh Dr. Wido Supraha, M.Si
ADAB
Pengertian Adab
Menurut pengertian secara umum adab adalah kebiasaan baik. atau menerapkan
ahlak yang mulia. Menurut Syed Naquib Al Attas, Adab adalah disiplin akal, jiwa
dan jasad. Menurut Ibnu Hajar Al Atsqalani dalam kitab Fath al-Bari, 10/400:
و الأدب استعمال ما قولا و فعلا و عبر بعضهم عنه بأنه الأخذ
بمكارم الخلاق
“Dan adab adalah melakukan apa-apa
yang dipuji oleh manusia, baik perkataan maupun perbuatan. Didefinisikan juga
oleh sebagian ulama bahwa adab adalah penerapan ahlak yang mulia”
Untuk membahas adab lebih
lanjut, terlebih dahulu harus diketahui unsur-unsur yang terdapat pada jiwa manusia,
yaitu:
1. Akal.
Akal tugasnya adalah untuk berkerja dan dipekerjakan dengan cara berfikir
dan menganalisa. Oleh karenanya sejak awal Islam datang, ayat pertama yang
dirutunkan Allah SWT adalah perintah membaca. Dalam pengertian yang
lebih luas adalah belajar dan mempelajari Al Qur’an dengan cara tadabbur dan
tadzakkur. Oleh karenanya untuk mendapatkan akal yang sehat maka harus
dipelihara dengan memberikan makanannya, yaitu ilmu. Dengan ilmu, akal akan
mengenal Allah SWT. Dengan mengenal Allah SWTmaka, ia akan tunduk, patuh dan merendah
kepada Allah SWT sebagai hamba. Olehnya
Allah SWT memberikan penghargaan yang tinggi terhadap
orang berilmu, sebagaimana SQ. Al Mujadilah:11
يَرۡفَعِ
ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ مِنكُمۡ وَٱلَّذِينَ أُوتُواْ ٱلۡعِلۡمَ دَرَجَٰتٖۚ
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat”.
2. Qalbu/ruh
Tugas qalbu adalah memahami dan menghayati apa yang diketahui oleh akal.
Jika qalbu faham, maka jasad sebagai kendaraannya akan bergerak. Qalbu yang
sehat adalah qalbu yang senantiasa dipelihara dengan memberikannya asupan
makanannya yaitu dengan berdzikir kepada Allah SWT. Qalbu yang senantiasa
berdzikir akan menjadi jernih dan tenang sehingga ia dapat menjadi acuan dalam
setiap masalah. Kejernihan dan ketenagan
inilah yang memudahkan seseorang untuk memahami ilmu serta dapat
mendorongnya untuk mendapatkan hikmah-hikmah besar terhadap ilmu-ilmu yang
diketahuinya.
3. Jasad
Makanan jasad adalah amal atau bergerak. Jasad adalah kendaraan bagi qalbu.
Agar jasad selalu siap untuk beramal atau bergerak maka, amal butuh diberi
bahan bakar berupa makanan 4 sehat 5 sempurna. Olehnya makanan itu bukan untuk
jasad, melainkan untuk amal atau bergerak. Maka dapat dilihat orang yang banyak
makan atau tidak makan, akan sulit untuk beramal atau bergerak. Islam yang
bersifat wasathiyah mengajarkan manusia untuk seimbang antara makan banyak dan
tidak makan. Sebagaimana firman Allah dalam Qs:7:31
وَكُلُواْ
وَٱشۡرَبُواْ وَلَا تُسۡرِفُوٓاْۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلۡمُسۡرِفِينَ
“Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan”.
Tentunya tidak sekedar
makan, tetapi makanan yang baik lagi halal. Baik dari segi penyajiannya maupun cara
mendapatkannya. Sebab makanan yang baik lagi halal akan menghasilkan jiwa yang
baik (khair) yang akan melakukan amal-amal yang baik pula. Disinilah fungsinya
akal untuk berfikir memahamkan qalbu yang menggerakkan jasad untuk beramal.
Jika terpenuhi semua kebutuhan akal, qalbu dan jasad maka akan terwujud
akal yang cerdas yang melahirkan qalbu yang bersih dan jasad yang sehat. Inilah
yang dimaksud keseimbangan (tawazun), yang dihasilkan oleh keadilan akal. Hal
ini berawal dari kedisplinan yang melahirkan amal-amal yang adil dan seimbang berdasarkan
ridha Allah SWT. Yaitu melihat segala sesuatu
masalah yang sesuai dengan porsinya.
Konsep Adab
Berdasarkan firman Allah SWT. Dalam QS:66:6
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ قُوٓاْ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارٗا
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka”.
Menurut Ali bin Abi
Thalib RA. Ayat ini bermakna bahwa kepala
keluarga; dalam hal ini suami, bapak, kakek dan istri/ibu harus menanamkan adab dan ilmu. Hal ini mengisyaratkan bahwa beliau telah mengetahui sejak awal bahwa
proses mendapatkan ilmu adalah didahului dengan pendidikan adab. Oleh
karenannya institusi-institusi pendidikan bertugas melahirkan manusia terbaik
yang beradab.
Target teringgi dari
pendidikan adalah membangun jiwa-jiwa yang membangun agama. Olehnya beberapa
ulama menggunakan kata pendidikan dengan banyak redaksi, diantaranya
adalah:
- - Ta’lim. bermakna pengajaran yang bersifat penyampaian
pengetahuan dan keterampilan. Pelakunya disebut Mu’allim atau Mu’allimah
- - Tadris. Bermakna melakukan transfer pengetahuan. Pelakunya
disebut Mudarris atau Mudarrisah.
- - Tarbiyah. Bermakna mengantarkan seseorang pada tumbuh
kembangnya. Pelakunya Murabbi atau Murabbiyah
- - Tadrib. Bermakna pelatihan-pelatihan fisik. Pelakunya
Mudarrib atau Mudarribah.
Akan tetapi menurut Syed
Naquib Al Attas bahwa, kata Ta’dib telah mewakili semua redaksi di atas
dengan tujuan yang lebih substantif. Pelakunya ta'dib disebut Mu’addib dan Mu’addibah.
Ajaran agama Islam bersifat alamiyah, dimana setiap orang
akan mudah menerima hal-hal yang baik, baik bentuk perkataan yang baik ataupun
perbuatan yang baik. oleh karenanya kebaikan Islam pasti dipuji dan diterima
oleh setiap orang tanpa menyebutkan sumbernya sekalipun. Hal ini seiring dengan
metode berda’wah yaitu, menyampaikan da’wah sesuai bahasa setempat agar
mempermudah penyampaian da’wah dan amal. Sebab tanda kesempurnaan iman adalah
beramal. Beramal bukan sekedar rutinitas harian walau rutinitas itupun sangat
berguna karena merupakan syariat Islam dan tonggak untuk hal-hal yang lebih
besar. Tetapi selain rutinitas ada hal yang lebih berharga dan bergairah yang meminta pengorbanan air mata, darah bahkan nyawa. Sebagaiman firman Allah
Qs. Al Anfal:34
يَٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱسۡتَجِيبُواْ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا
يُحۡيِيكُمۡۖ
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan
seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan
kepada kamu”.
Amalan rutinitas dan amal yang lebih berharga dan
bergairah adalah signal dari perintah Allah SWT. Untuk melakukan semua
perintah Allah SWT secara menyeluruh, sebagaimana tafsir Imam Ibnu Katsir tentang
Qs:2:208 bahwa perintah melaksanakan ajaran agama Islam secara keseluruhan
adalah sekuat tenaga, seluruh kemampuan hinggapun harus menyerahkan nyawa. Oleh
karenanya penegakkan syariah Islam secara menyuluruh adalah menegakkan
cabang-cabang iman. Dimana cabang tertinggi adalah menegakkan kalimat لا إله إلا الله, dan cabang yang paling rendah adalah membuang duri di jalan.
olehnya iman yang terendah saja membutuhkan energi apatah lagi iman yang
tertinggi, tentu lebih banyak energi yang dibutuhkan, hinggapun nyawa yang
diminta.
Iman adalah amal, sebab targetnya adalah beramal. Tetapi
sebelum beramal haruslah mengilmui amalan tersebut. Sebab ilmu adalah pemimpin
amal. Ilmu juga menjadi syarat diterimanya amal dan sebagai pendorong untuk
melakukan amal. Syarat agar ilmu dapat mendorong amal adalah mempelajari adab. Kurang
lebih urutannya adalah sebagai berikut:
| 1. Iman sebelum Adab 2. Adab sebelum Ilmu | |||||
| 3. Ilmu sebelum Amal | |||||
Seseoang yang mempelajari
adab, pastilah beriman kepada Allah SWT. Dan orang yang beriman
pada Allah SWT secara otomatis mengimani kalam Allah
yaitu Al Qur’an. Al Qur’an adalah hidangan adab, sebagaimana Rasulullah صل الله عليه وسلم menjadi sosok berahlak
seperti Al Qur’an.
Para ulama dan orang-orang soleh terlebih dahulu
mempelajari adab. Mereka rela mendapatkan sedikit ilmu untuk mendahulukan
mempelajari adab. Tetapi justru dengan mempelajari adab, mereka menjadi faham
banyak ilmu. Inilah yang disebut keberkahan. Mereka bahkan mengaplikasikan adab
dalam bentuk yang paling kecil. seperti menyesuaikan pakaian mereka, yang mana pakaian untuk ke majlis ilmu, ke
masjid untuk shalat ataukah ke pasar dan lain-lain. Sebagaimana perkataan Ibnul
Mubarak dalam Adabul ‘Âlim wal Muta’alliim karya Hadratussyekh Hasyim
Asy’ari,
نحن إلى قليل من الأدب
أحوج منا إلا كثير من العلم
“kami lebih membutuhkan adab (meskipun)
sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak”.
Kesalahan yang banyak dilakukan oleh orang-orang zaman
sekarang adalah mengejar ilmu tanpa mengindahkan adab. Hanya sekedar
membutuhkan gelar. Olehnya ketika telah berada di lapangan atau tengah
mengajarkan ilmunya, hanya sebatas bekerja untuk mendapatkan upah. Hanya sekedar menggugurkan
kewajiban dan tidak memperdulikan selainnya. setiap pengajar harus memperhatikan adabnya terlebih dahulu, sebab setiap orang terkadang menjadi murid dan sekaligus adalah seorang guru atau pengajar.
Dalam
kita At Tibyân fi
Hamalat Al Qur’an karya Imam Nawawi diterangkan adab-adab guru dan murid,
sebagai berikut:
1.
Adab
seorang guru atau pendidik kepada muridnya:
o
Dalam
mengajar harus ikhlas hanya mengharapkan keridhaan Allah
.
o
Tidak
boleh mengharapkan lebih banyak materi dari orang-orang yang diajarkan ilmu.
o
Tidak
memaksakan orang lain untuk mengikuti majelisnya.
o
Hendaknya
bersifat zuhud terhadap dunia dan mengambil seperlunya.
o
Bersikap
lemah lembut.
o
Memberikan
nasehat. Sebab agama adalah nasehat.
o
Tidak
menyombongkan diri.
o
Membantu
dalam hal-hal yang kecil serta mengajarkan ilmu secara bertahap.
o
Mementingkan
pengajaran diatas kepentingan dirinya yang bersifat duniawi.
o
Menunjukkan
kegembiraan dan muka berseri-seri dalam mengajar
o
Tidak
boleh menolak mengajarkan ilmu disebabkan niat muridnya berbeda dengannya.
o Harus
fokus dalam mengajar. Di zaman sekarang, tidak layak seorang pengajar memberikan pelajaran kepada muridnya sambil bermain hand phone dan lain-lain.
o
Tidak
merendahkan ilmu.
2.
Adab
seorang murid terhadap gurunya:
o Belajar
terhadap guru yang menonjol keagamaannya, nyata pengetahuannya dan terkenal
kebersihan diri dan sifatnya.
o Memuliakan
guru untuk mendapatkan manfaat ilmu.
o Mendoakan, sebagaimana ulama-ulama mutaqaddim mendoakan
guru-guru mereka dengan doa : “Ya Allah, tutupilah keburukan guruku dariku dan jangan
hilangkan keberkatan ilmunya dariku”.
o Tidak berbicara dengan orang di sampingnya ketika guru
sedang mengajar
o Ketika masuk ruang majelis guru, seharusnya seorang murid meminta izin terlebih dahulu dan memberi salam.
o Tidak boleh melewati bahu orang lain kecuali telah
diizinkan oleh gurunya.
o Menunjukkan adab yang baik terhadap guru dan teman-taman sesama
majelis.
o Berbaik sangka terhadap guru dengan ketegasan dan
keburukan ahlaknya, serta meminta maaf terhadap guru sekalipun merasa tidak
bersalah.
o Tekun dalam menuntut ilmu.
o Tidak iri terhadap keutamaan kawan dan tidak membanggakan
diri.
Adapun
cara menanamkan adab pada anak didik adalah:
o
Menjadi
contoh tauladan terlebih dahulu.
o
System
ketauladanan jama’i. Bahwa semua pengajar dan orang-orang dewasa yang ada
disekelilingnya bertanggung jawab untuk
menanamkan adab sesuai level masing-masing.
o
Penerapan
adab harus sinkron antara sekolah dan rumah, serta lingkungan sekitar rumah.
و الله أعلم بالصواب