بسم الله الرحمن الرحيم
Nuraeni
Ringkasan mata kuliah Islamic Worldview
Oleh Dr. Wido Supraha, M.Si
Islamic Worldview artinya Pandangan dunia berdasarkan
nilai-nilai Islam. Abad pertengahan,
oleh para ahli disebut The Dark Ages yang berarti masa kegelapan. Dimana sebelumnya
pada masa kejayaan kekaisaran Romawi, mereka menguasai produk-produk sains dan
tekhnologi. Dimasa kegelapan ini gereja mendominasi seluruh segi kehidupan
masyarakat, sampai pada produk-produk
sains. Bahkan tokoh ilmuan sekelas Copernicus Galileo, oleh pihak geraja diperintahkan
untuk bertaubat disebabkan teorinya tentang bumi mengitari matahari. Juga dominasi
geraja yang sangat merendahkan wanita. Wanita dianggap sebagai produk gagal,
bahkan dianggap sebagai nenek sihir. Dominasi
gereja yang terlalu kuat dan dianggap menghambat kemajuan tersebut
mengakibatkan banyak masyarakat yang ingin melepaskan diri dari kekangan
gereja. Hal ini dikenal dengan istilah Neutral. Yang di dalam bahasa Indonesia
diartikan dengan BEBAS. Yaitu bebas dari hegemoni gereja Katolik Roma.
Pada masa inilah Agama Islam hadir untuk
memberikan solusi. Dimana di dalam Islam tidak dikenal adanya kata Netral atau
Bebas dalam perkara apapun. Dalam syariat Islam, penganutnya diminta untuk
menetapkan pilihan dan memahami konsukuensi dari hasil pilihannya
tersebut. Metodologi untuk memilih dalam
konteks Islam, sebaiknya sama. Jika metodologi berbeda, maka produk pun
berbeda. Adapun orang di luar Islam yang netral, mereka menjadi atheis. Mereka
membebaskan diri dari kitab suci agama apapun. Oleh karenanya mereka harus membuat
teori-teori dan pandangan-pandangan kehidupan yang baru. Inilah yang disebut
worldview, yaitu pandangan-pandangan baru yang tidak ada sama sekali unsur-unsur
agama manapun. Maka pandangan-pandangan inilah yang di Islamisasi, yang oleh
beberapa ulama yang mengistilahkannya dengan “Islami Nazariat” yaitu Abu Al
A’la Al Maududi. Atau oleh Sayyid Kuthb yang mengistilahkan dengan “Tasawwur
al-Islamy” dan Syed Naquib Al Attas menyebutnya “Ru’yat al-Islam lil Wujud”
Islamisasi adalah kemampuan mengidentifikasi
kebenaran atas suatu hal, dan mengembangkan kebenaran tersebut. Panduan Islam
dalam mengindentifikasi kebenaran adalah Al Qur’an dan Al Hadis. Oleh karenanya
ayat al Qur’an yang turun
pertama kali adalah perintah untuk membaca.
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي
خَلَقَ ١
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang
menciptakan” (Qs. Al Alaq:1).
Membaca dalam hal ini adalah seluruh
ayat-ayat kauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Adakah pertentangan diantara
keduanya? Oleh karenanya mau tidak mau seorang yang mengaku beragama Islam dan
ingin mempelajari Islam harus bersedia untuk berfikir mendalam. Karena
tanpanya, seseorang akan mudah menjadi taqlid buta pada hal-hal baru yang
ditemui dalam kehidupannya. Dorongan untuk berfikir dalam Al Qur’an berbentuk
kata-kata akal yang berulang 86 kali dan semua dalam bentuk kata kerja
(fi’il). Kemampuan akal untuk berfikir sangat penting. Sebab dengan berfikir
seseorang akan mengetahui banyak hal, yang dengannya ilmupun bertambah.
Sehingga peradaban Islam tetap terjaga.
Pandangan hidup Islam bersumber dari Al Qur’an. oleh
karenanya Al Qur’an harus difahami melalui metode tadabbur (ayat-ayat Al
Qur’an) dan tadzakkur (selain ayat-ayat yang tertulis di alam semesta) . Hal
ini tercantum dalam Qs.38:29
كِتَٰبٌ
أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ
أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٩
“Ini
adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya
mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang
yang mempunyai fikiran”.
Wajib hukumnya mentadabburi dan mentadzakkuri seluruh
ayat-ayat Al Qur’an yang berjumlah 6.666 ayat atau 6.236 ayat (jumlah menurut
Imam Ibnu Katsir). 77.439 kata, serta 340.740 huruf. Oleh karenanya setiap
huruf yang menyusun kata terdapat 10 kebaikan. Sebagaimana sabda Rasulullah صل الله عليه وسلم :
من قرأ حرفا من كتاب الله فله به سنة
و الحسنة بعشر أمثالها,
لا أقول "ال" حرف ولكن ألف حرف ولا وميم حرف (رواه الترميذي)
“Barang siapa
membaca satu huruf dari kitab Allah SWT (Al Qur’an), maka ia akan memperoleh pahala
satu amal kebajikan. Dan pahala satu amal kebajikan dilipatkan 10x. Saya tidak
mengatakan bahwa ‘Alif lam – mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam
satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. At Tirmidzi).
Hadits ini mengisyaratkan bahwa
hal-hal yang besar, berawal dari hal-hal yang kecil. Oleh karenanya jangan
pernah meremehkan hal-hal kecil
Perkataan Imam Al Jaz’iri; “Jangan
tinggi-tinggi engkau bicara ingin menegakkan peradaban, sebelum engkau terbiasa
menegakkan setiap huruf dalam Al Qur’an”. Hal ini senada dengan nasihat Luqman
terhadap anaknya yang tertulis abadi dalam Qs. Luqman: 16;
يَٰبُنَيَّ
إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ
فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ
لَطِيفٌ خَبِيرٞ
“(Luqman
berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat
biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya
Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi
Maha Mengetahui.” Dari ayat al Qur’an, hadits Rasulullah dan perkataan
Imam Jazari, semua mengisyaratkan bahwa hal-hal besar berawal dari hal-hal yang
kecil. Dan semua perbuatan besar dan kecil akan dibalas dengan pahala dan juga
siksa. Hal ini juga mengisyaratkan adanya proses. Proses yang runut, sistematis
dan bertahap serta terus-menerus akan membentuk kedisiplinan. Kedisiplinan
dalam berfikir akan membentuk adab dan akhlak yang menuntun seseorang untuk
mengetahui dan membahami ilmu.
Ajaran Islam yang tertuang dalam Al
Qur’an, diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasululullah lewat Malaikat Jibril, melalui
proses yang panjang, yaitu sekitar 23 tahun. Pada saat itu Rasulullah telah
genap berusia 40 tahun. Dimana di usia 40, seseorang berada pada usia yang
matang, serta telah melewati berbagai hal dan mengetahui nikmat yang telah
Allah anugerahkan padanya. Olehnya seseorang yang telah mencapai umur 40 tahun
membaca doa seperti yang terdapat dalam Qs.Al Ahqaf:15
قَالَ
رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ
وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي
ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٥
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau
yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat
berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan
(memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau
dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”
Di usia
40 tahun Allah SWT meneguhkan Rasulullah untuk mengemban dakwah
Islam. Adapun fase tersebut terbagi dalam 3 bagian, yaitu;
- 13 tahun fase Makkah. ayat-ayat Al Qur’an yang turun
pada fase ini bercirikan surah yang pendek-pendek, yang berisikan penanaman
aqidah yang bermakna mengikatkan diri hanya kepada Allah SWT, penanaman tauhid yang
bermakna meng-Esa-kan Allah SWT serta penanaman keimanan
yang bermakna percaya hanya kepada Allah SWT. Semua bertujuan agar
manusia mengetahui penciptanya dan tujuan penciptaannya. Agar manusia bertauhid
kepada Allah SWT secara kokoh, yang akan melahirkan iman yang
juga kokoh. Iman yang kokoh akan melahirkan: keberanian, motifasi, ketenangan dalam
keletihan berjuang, berusaha dan beramal.
- 10 tahun fase Madinah. Ayat-ayat Al Qur’an yang turun
pada fase ini bercirikan surah dengan ayat-ayat yang panjang, yang berisi
penetapan syariat, baik ibadah, muammalah dan perintah untuk berjihad/perang.
Proses belajar Islam adalah proses belajar untuk
mempersiapkan turbulensi. Artinya bahwa kehidupan yang Allah SWT karuniakan kepada
manusia punya batas. Dimana batas umur manusia hanya berkisar 60 an tahun. 20
tahun awal kehidupannya adalah proses untuk menuntut ilmu. Diusia 40 tahun
adalah proses mengamalkan ilmu dan tetap masih menunut ilmu. Diusia 60 tahun
adalah proses mengamalkan ilmu sambil masih tetap terus menutut ilmu. Proses ini
disebut Tafaqquh, yang membawa seseorang pada kejahilan (kebodohan) kepada ‘alim
dan fahim, serta faqih إن شا الله.
و الله أعتم بالصواب
No comments:
Post a Comment