Saturday, 12 October 2019


بسم الله الرحمن الرحيم
Nuraeni

Ringkasan mata kuliah Islamic Worldview
Oleh Dr. Wido Supraha, M.Si

Islamic Worldview artinya Pandangan dunia berdasarkan nilai-nilai Islam.  Abad pertengahan, oleh para ahli disebut The Dark Ages yang berarti masa kegelapan. Dimana sebelumnya pada masa kejayaan kekaisaran Romawi, mereka menguasai produk-produk sains dan tekhnologi. Dimasa kegelapan ini gereja mendominasi seluruh segi kehidupan masyarakat,  sampai pada produk-produk sains. Bahkan tokoh ilmuan sekelas Copernicus Galileo, oleh pihak geraja diperintahkan untuk bertaubat disebabkan teorinya tentang bumi mengitari matahari. Juga dominasi geraja yang sangat merendahkan wanita. Wanita dianggap sebagai produk gagal, bahkan dianggap  sebagai nenek sihir. Dominasi gereja yang terlalu kuat dan dianggap menghambat kemajuan tersebut mengakibatkan banyak masyarakat yang ingin melepaskan diri dari kekangan gereja. Hal ini dikenal dengan istilah Neutral. Yang di dalam bahasa Indonesia diartikan dengan BEBAS. Yaitu bebas dari hegemoni gereja Katolik Roma.

Pada masa inilah Agama Islam hadir untuk memberikan solusi. Dimana di dalam Islam tidak dikenal adanya kata Netral atau Bebas dalam perkara apapun. Dalam syariat Islam, penganutnya diminta untuk menetapkan pilihan dan memahami konsukuensi dari hasil pilihannya tersebut.  Metodologi untuk memilih dalam konteks Islam, sebaiknya sama. Jika metodologi berbeda, maka produk pun berbeda. Adapun orang di luar Islam yang netral, mereka menjadi atheis. Mereka membebaskan diri dari kitab suci agama apapun. Oleh karenanya mereka harus membuat teori-teori dan pandangan-pandangan kehidupan yang baru. Inilah yang disebut worldview, yaitu pandangan-pandangan baru yang tidak ada sama sekali unsur-unsur agama manapun. Maka pandangan-pandangan inilah yang di Islamisasi, yang oleh beberapa ulama yang mengistilahkannya dengan “Islami Nazariat” yaitu Abu Al A’la Al Maududi. Atau oleh Sayyid Kuthb yang mengistilahkan dengan “Tasawwur al-Islamy” dan Syed Naquib Al Attas menyebutnya “Ru’yat al-Islam lil Wujud”

Islamisasi adalah kemampuan mengidentifikasi kebenaran atas suatu hal, dan mengembangkan kebenaran tersebut. Panduan Islam dalam mengindentifikasi kebenaran adalah Al Qur’an dan Al Hadis. Oleh karenanya ayat al Qur’an yang turun
pertama kali adalah perintah untuk membaca.
ٱقۡرَأۡ بِٱسۡمِ رَبِّكَ ٱلَّذِي خَلَقَ ١
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan (Qs. Al Alaq:1).

Membaca dalam hal ini adalah seluruh ayat-ayat kauliyah dan ayat-ayat kauniyah. Adakah pertentangan diantara keduanya? Oleh karenanya mau tidak mau seorang yang mengaku beragama Islam dan ingin mempelajari Islam harus bersedia untuk berfikir mendalam. Karena tanpanya, seseorang akan mudah menjadi taqlid buta pada hal-hal baru yang ditemui dalam kehidupannya. Dorongan untuk berfikir dalam Al Qur’an berbentuk kata-kata akal yang berulang 86 kali dan semua dalam bentuk kata kerja (fi’il). Kemampuan akal untuk berfikir sangat penting. Sebab dengan berfikir seseorang akan mengetahui banyak hal, yang dengannya ilmupun bertambah. Sehingga peradaban Islam tetap terjaga.

            Pandangan hidup Islam bersumber dari Al Qur’an. oleh karenanya Al Qur’an harus difahami melalui metode tadabbur (ayat-ayat Al Qur’an) dan tadzakkur (selain ayat-ayat yang tertulis di alam semesta) . Hal ini tercantum dalam Qs.38:29

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٞ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ ٢٩
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran”.

Wajib hukumnya mentadabburi dan mentadzakkuri seluruh ayat-ayat Al Qur’an yang berjumlah 6.666 ayat atau 6.236 ayat (jumlah menurut Imam Ibnu Katsir). 77.439 kata, serta 340.740 huruf. Oleh karenanya setiap huruf yang menyusun kata terdapat 10 kebaikan. Sebagaimana sabda Rasulullah صل الله عليه وسلم :
من قرأ حرفا من كتاب الله فله به  سنة و الحسنة بعشر أمثالها, لا أقول "ال" حرف ولكن ألف حرف ولا وميم حرف (رواه الترميذي)
“Barang siapa membaca satu huruf dari kitab Allah SWT (Al Qur’an), maka ia akan memperoleh pahala satu amal kebajikan. Dan pahala satu amal kebajikan dilipatkan 10x. Saya tidak mengatakan bahwa ‘Alif lam – mim itu satu huruf, tetapi alif satu huruf, lam satu huruf, dan mim satu huruf.” (HR. At Tirmidzi). 

Hadits ini mengisyaratkan bahwa hal-hal yang besar, berawal dari hal-hal yang kecil. Oleh karenanya jangan pernah meremehkan hal-hal kecil

            Perkataan Imam Al Jaz’iri; “Jangan tinggi-tinggi engkau bicara ingin menegakkan peradaban, sebelum engkau terbiasa menegakkan setiap huruf dalam Al Qur’an”. Hal ini senada dengan nasihat Luqman terhadap anaknya yang tertulis abadi dalam Qs. Luqman: 16;
يَٰبُنَيَّ إِنَّهَآ إِن تَكُ مِثۡقَالَ حَبَّةٖ مِّنۡ خَرۡدَلٖ فَتَكُن فِي صَخۡرَةٍ أَوۡ فِي ٱلسَّمَٰوَٰتِ أَوۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ يَأۡتِ بِهَا ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٞ
“(Luqman berkata): "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” Dari ayat al Qur’an, hadits Rasulullah dan perkataan Imam Jazari, semua mengisyaratkan bahwa hal-hal besar berawal dari hal-hal yang kecil. Dan semua perbuatan besar dan kecil akan dibalas dengan pahala dan juga siksa. Hal ini juga mengisyaratkan adanya proses. Proses yang runut, sistematis dan bertahap serta terus-menerus akan membentuk kedisiplinan. Kedisiplinan dalam berfikir akan membentuk adab dan akhlak yang menuntun seseorang untuk mengetahui dan membahami ilmu.

            Ajaran Islam yang tertuang dalam Al Qur’an, diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasululullah lewat Malaikat Jibril, melalui proses yang panjang, yaitu sekitar 23 tahun. Pada saat itu Rasulullah telah genap berusia 40 tahun. Dimana di usia 40, seseorang berada pada usia yang matang, serta telah melewati berbagai hal dan mengetahui nikmat yang telah Allah anugerahkan padanya. Olehnya seseorang yang telah mencapai umur 40 tahun membaca doa seperti yang terdapat dalam Qs.Al Ahqaf:15
قَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَصۡلِحۡ لِي فِي ذُرِّيَّتِيٓۖ إِنِّي تُبۡتُ إِلَيۡكَ وَإِنِّي مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٥

"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.”

            Di usia 40 tahun Allah SWT meneguhkan Rasulullah untuk mengemban dakwah Islam. Adapun fase tersebut terbagi dalam 3 bagian, yaitu;

- 13 tahun fase Makkah. ayat-ayat Al Qur’an yang turun pada fase ini bercirikan surah yang pendek-pendek, yang berisikan penanaman aqidah yang bermakna mengikatkan diri hanya kepada Allah SWT, penanaman tauhid yang bermakna meng-Esa-kan Allah SWT serta penanaman keimanan yang bermakna percaya hanya kepada Allah SWT. Semua bertujuan agar manusia mengetahui penciptanya dan tujuan penciptaannya. Agar manusia bertauhid  kepada Allah SWT secara kokoh, yang akan melahirkan iman yang juga kokoh. Iman yang kokoh akan melahirkan: keberanian, motifasi, ketenangan dalam keletihan berjuang, berusaha dan beramal.   
- 10 tahun fase Madinah. Ayat-ayat Al Qur’an yang turun pada fase ini bercirikan surah dengan ayat-ayat yang panjang, yang berisi penetapan syariat, baik ibadah, muammalah dan perintah untuk berjihad/perang.

Proses belajar Islam adalah proses belajar untuk mempersiapkan turbulensi. Artinya bahwa kehidupan yang Allah SWT karuniakan kepada manusia punya batas. Dimana batas umur manusia hanya berkisar 60 an tahun. 20 tahun awal kehidupannya adalah proses untuk menuntut ilmu. Diusia 40 tahun adalah proses mengamalkan ilmu dan tetap masih menunut ilmu. Diusia 60 tahun adalah proses mengamalkan ilmu sambil masih tetap terus menutut ilmu. Proses ini disebut Tafaqquh, yang membawa seseorang pada kejahilan (kebodohan) kepada ‘alim dan fahim, serta faqih إن شا الله.

و الله أعتم بالصواب

No comments:

Post a Comment